Cerpen 2: I Promise


Based on true story between Ahmad Riza Fadli & Siti Harianti

Dulu seseorang pernah berjanji padaku ketika pertama kali kami saling mengenal.

Za janji akan jaga persahabatan ini seperti rel kereta api tiada ujung

Itu hal terakhir yang aku ingat, ketika akhirnya aku memutuskan untuk lebih akrab dengan Eric hingga membuat persahabatan kami renggang.

FLASHBACK

Saat aku terpilih jadi SIPEN (SI PENANGGUNG JAWAB MATA KULIAH) KDM I (KEBUTUHAN DASAR MANUSIA). Sedangkan Za terpilih jadi KOMTING (KOMISARIS LETING). Kami selalu bersama layaknya teman sekelas yang saling membantu. Kami menerima tanggung jawab ini dengan penuh suka cita. Semenjak saat itu kami menjadi teman dekat. Dan sebelum mata kuliah dimulai, aku selalu meminta tolong padanya menemaniku ke ruang komputer untuk mengambil absen beserta LCD.

Itu hal yang membuatku selalu teringat saat – saat dimana Za berjanji padaku. Aku menyimpan rasa suka yang amat dalam padanya karena sejak lamanya kami selalu dekat sebagai sahabat. Tapi aku malu untuk mengatakan kalau aku menyukainya.

Beberapa bulan kemudian, aku mulai mendekati Eric. Tapi hanya sebatas abang angkat saja. Aku suka dengan kepribadiannya yang santai, dewasa dan juga penyayang. Namun tanpa sadar aku mulai mengabaikan Za. Aku tidak pernah lagi meminta tolong padanya. Kami juga tidak pernah lagi bertegur sapa di kelas. Hingga persahabatan kami pun renggang.

*****

Ketika Eric mulai baper terhadapku, dia pun mulai menanyakan pendapatnya mengenai diriku pada dua orang teman akrabnya. Dan permusuhan ini pun terjadi usai solat isya.

“eh menurut kalian Nti tuh orangnya gimana?”. Tanya Eric senyum – senyum.

“suka koleksi cowok”. Sahut Za sinis.

“eh kog Za ngomong gitu sih?”. Tanya Eric heran.

“lihat aja sendiri tingkahnya. Semua cowok didekatinnya. Dulu kan kami dekat. Sekarang udah gak lagi”. Jawab Za spontan.

“iya yah. Nti sekarang mulai dekatin aku. Benar juga tuh Za omonganmu”. Sahut Eric geram.

“berarti mulai sekarang kita bertiga musuhin Nti”. Sahut Rano memotong pembicaraan.

“oke. Kita buat perjanjian mulai sekarang kita musuhin Nti”. Sahut Za semangat.

“setuju”. Sahut Eric & Rano.

*****

Keesokan paginya saat mata kuliah berakhir, mendadak Rano memanggilku dan mengatakan hal yang membuatku sakit hati.

“eh Nti kamu tahu gak tadi malam kami bertiga gosipin dirimu dibelakang musholla”. Ujar Rano.

“hah? kalian gosipin aku? ngomong apa kalian?”. Tanyaku curiga.

“aku, Eric & Za sepakat gak mau akrab sama mu lagi karena dirimu suka koleksi cowok”. Sahut Rano tertawa.

Spontan aku pun marah dan meninggalkan Rano begitu saja dikelas. Aku jadi bingung kenapa mereka bertiga bisa berpendapat seperti itu terhadapku. Hingga membuat selera makanku mendadak hilang.

*****

“gimana El, diterimanya gak suratku tadi siang?”. Tanya Za penuh harap.

“udah diterimanya tapi aku gak tahu dibacanya apa gak”. Jawab Ely.

“lagi ngomongin Nti yah? surat apa Za kog Nti gak ada cerita samaku”. Sahut Rina memotong pembicaraan.

“Nti? siapa juga yang bahas dia?”. Sahut Za ketus.

Rina pun langsung berlari bergegas menemui Nti. Mendengar hal tersebut Nti langsung sedih sambil menangis ditempat tidurnya. Bantalnya basah dalam cahaya redup lampu kamar asrama.

Semester 2…..

Untuk sekian lama tak mengobrol, Za berjalan mendekat padaku.

“Nti apa kabar? udah lama ya kita gak ngobrol”. Ujar Za memulai pembicaraan.

Mendadak kami seperti orang asing. Terdiam untuk saling memandang beberapa detik. Kuberanikan diri untuk membalas sapaannya.

*****

“Zee, bisa minta tolong gak kasihkan ini sama Nti”. Ujar Za malu – malu.

“hah panggil aja ke asramanya ngapain juga nyuruh aq”. Sahut Zee malas.

“ih kalau aku yang ngasih ya ketauan lah”. Sahut Za memohon.

“iya iya sini mana barangnya”. Sahut Zee.

“eh Zee bilang sama Nti ini dari ARiFa”. Ujar Za buru – buru.

“oke”. Sahut Zee sambil bergegas ke asrama Nti.

“Nti ini untukmu”. Ujar Zee sambil memberikan sebuah bungkusan plastik hitam.

“haha apaan nih Zee? dari siapa?”. Tanyaku heran.

“dari ARiFa. Aku gak tau isinya apa. Dah ya Nti aku mau balik ke asrama”. Sahut Zee buru – buru.

“makasih banyak ya Zee”. Sahutku gembira.

Aku tersenyum sambil membuka bungkusan tersebut. Sebuah coklat silverqueen most romantic ever kemasan pink. Dalam benakku buat apa Arifah (teman di Akademi Kebidanan) memberikan coklat. Aku terus berpikir hingga coklatnya habis. Akhirnya aku memilih menyimpan bungkus tersebut sebagai bukti keraguanku yang belum terjawab.

*****

“Fah tadi malam makasih ya coklatnya”. Ujarku menemui Arifah usai apel pagi.

“hah coklat apaan Nti. Aku gak ngerti”. Sahut Arifah bingung.

“jadi bukan dirimu yang ngasih aku coklat?”. Sahutku tak mengerti.

“coba tanya sama yang ngasih. Itu coklat pemberian dari siapa. Udah ya Nti aku masuk kelas duluan”. Sahut Arifah sambil berlalu.

Aku tertegun mendengar ucapan Arifah. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas menemui Zee.

“eh Zee sebenarnya tadi malam itu pemberian dari siapa?”. Tanyaku penasaran.

“itu dari Za. Kenapa Nti?”. Jawab Zee santai.

Tiba – tiba aku langsung berusaha mengingat nama asli Za dan ternyata jika disingkat menjadi ARiFa. Mendengar hal itu aku langsung tersenyum dan sedikit lega mendengarnya.

Semester 4…..

Kini persahabatanku dengan Eric & Rano telah kembali seperti dulu lagi. Mereka meminta maaf padaku dan ingin berteman seperti yang dulu lagi.

“oke pagi hari ini bagaimana kalau kita praktek pemasangan infus saja. Biar ibu pilih pasangannya”. Ujar bu Idar.

“Nti & Za”. Teriak Eric.

“iya ibu setuju. Za berperan sebagai pasien, Nti sebagai perawat atau sebaliknya”. Sahut bu Idar antusias.

Apa? aku berpasangan dengan Za. Gumamku dalam hati.

“siapa nih yang jadi pasiennya?”. Tanyaku malu – malu pada Za.

“udah biar aku aja yang jadi pasiennya. Tapi harus sekali tusuk. Awas kalau sampai berkali – kali”. Sahut Za takut.

“beres loh Za. Bentar yah biar kusiapkan peralatannya”. Sahut Nti sambil bersiap – siap.

“cie cie Za sama Nti jadi pasangan awas grogi loh”. Ledek Lilis tertawa.

Saat aku sudah mempersiapkan segalanya dan hendak menusukkan jarum pada pembuluh darah vena Za, tiba – tiba Laila meledekku sambil bernyanyi lagu Yangseku (pujaan hati). Kau genggam erat tangan ini.

Aku spontan langsung menghempaskan tangan Za dan mengusir Laila.

“aduh Nti sakit loh”. Teriak Za.

“maaf Za. Ini juga baru mau dimulai”. Sahutku manja.

Baru kali ini aku memegang tangannya dan menjadi teman praktek. Sekarang aku begitu beruntung bisa dipasangkan dengannya walau hanya sebentar saja.

Detik – detik perpisahan…..

Aku merebahkan diriku diatas kasur bersama dengan Yenny. Kami menghabiskan waktu berdua usai makan malam sambil ditemani dengan derasnya suara rintikan hujan diatas seng. Aku menceritakan semua suka duka ku mengenai Za selama tiga tahun belakangan ini.

“jadi kak nanti gak bakalan ketemu bang Za lagi?”. Tanya Yenny penasaran.

“kakak juga gak tahu dek”. Jawabku hampa.

“kakak nanti bakalan kuliah lagi apa kerja?’. Tanya Yenny balik.

“kakak maunya kuliah lagi mumpung masih muda. Kalau bisa sih kuliah sambil kerja biar mandiri”. Jawabku singkat.

“kak seandainya bang Za nanti ketemu lagi sama kakak gimana?”. Tanya Yenny.

Kali ini aku langsung tersenyum mendengarnya. Aku tidak menjawab apapun tentang Za. Biarlah waktu yang menjawabnya.

Usai wisuda D3…..

Aku melanjutkan kuliah S1 di salah satu sekolah tinggi ilmu kesehatan di kota Medan sambil bekerja di sebuah praktek dokter spesialis saraf yang terletak di sebelah jalur rel kereta api Binjai – Medan. Sedangkan Za diterima bekerja di salah satu rumah sakit swasta di ruang bedah kota Medan. Sesekali bila aku mendengar suara kereta api lewat, aku jadi teringat dengan janji Za di saat kami masih menempuh pendidikan D3.

Sampai suatu malam saat tempat kerjaku belum tutup, terdengar suara sepeda motor terparkir tepat didepan tempat kerjaku.

“bu numpang tanya disini ada perawat yang namanya Nti gak?”. Tanya cowok berseragam putih.

“oh Nti ada masuk aja kedalam. Nti ada yang nyari dirimu”. Teriak baby sitter rumah ini.

Sambil berjalan keluar dari ruang dokter, aku merasa jantungku berdebar tidak seperti biasanya. Aku langsung menghampiri cowok tersebut. Tampak sesosok cowok berseragam putih memunggungiku.

Dengan rasa penasaran aku lantas menyapanya, “siapa ya?”.

Za pun langsung membalikkan badannya sambil berkata,”hai Nti apa kabar?”.

*THE END*

 

Iklan