setelah lama termangu, Ve mulai menulis kalimat pertama nya. lalu diam lagi. lama ia membaca ulang kalimat pendek yang cuma beberapa kata. lalu diremasnya kertas berisi tulisan itu. keningnya mengerut serius.
ternyata, membuat sepucuk surat lebih susah ketimbang mengerjakan soal fisika! sudah berapa lembar kertas yang terbuang percuma. Ve mengeluh kesal.
setelah mengambil kertas baru, Ve diam lagi. tubuhnya berbaring di kasur. matanya terpejam rapat. angan ve melayang ke sekolahnya. saat istirahat siang, dilapangan basket, dua minggu yang lalu.
saat itu, Alfi tersenyum manis padanya. itulah awal dari pertemuan manisnya bersama Alfi. waktu itu, Ve benar-benar nggak percaya. tiba-tiba saja Alfi sering melewati rumah Ve. wow, hati siapa yang nggak heboh melihat Alfi setiap pulang sekolah lewat rumahnya. Alfi yang merupakan kakak kelasnya tapi serasa jauh di ujung dunia. Ve yang diam-diam suka Alfi. tapi sayang kayaknya nggak berbalas.
buat Ve, Alfi kayak bayangan bulan diatas air. kayaknya dekat, nyatanya jauh banget! apalagi Ve nggak pede buat mengatakan cinta pada Alfi. secara Ve itu kan perempuan. gak mungkin dong perempuan “nembak” laki-laki duluan.
jadi sungguh diluar bayangan kalau selama ini Alfi adalah tetangga Jasya. padahal, Ve sering bermain kerumah Jasya. dan Ve baru tahu sekarang!
Alfi pun berjalan lurus kerumahnya tanpa melihat kanan kiri. keruan Ve jadi gugup dan salah tingkah. belum lagi, ia mampu menenangkan debar jantungnya. tahu-tahu Alfi menoleh kearah Ve.
“abang itu rumahnya dimana?”. tanya Ve penasaran.
“oh… itu loh jalan terus dikit aja. kenapa Ve? kamu kenal sama abang itu?”.
“gak ah. cuma nanya aja. soalnya abang itu sering lewat rumahku”. ujar Ve tersipu.
Ve pun tersentak dari angannya. dengan terkejut. ia melihat beker diatas mejanya. ya Allah, sudah jam 11! padahal, belum satu kalimat pun yang berhasil ia tulis.
Ve baru sadar kalau saat itu sudah nggak ada lagi bunyi-bunyian yang terdengar dari ruang keluarga. pasti semua penghuni rumah ini sudah berkelana di pulau kapuk.
buru-buru Ve meraih lagi pulpennya dan bersiap untuk menulis. kali ini ia bertekad. harus bisa menyelesaikan satu surat untuk Alfi. awalnya memang agak tersendat. tetapi selanjutnya dengan bayangan Alfi yang terus menari-nari dibenaknya. ternyata mampu memacu kreativitasnya untuk menyusun kata-kata manis. padahal, baru kali ini Ve menulis surat cinta.
berapa puluh menit kemudian, Ve menghembuskan nafas lega membaca hasil karyanya. setelah puas membaca berulang kali isi surat itu. Ve lipat dan disimpannya didalam tas.
pagi itu, Ve sampai dikelasnya dengan setumpuk keceriaan dan sebongkah harapan. surat yang semalaman ia buat sudah rapi tersimpan didalam tasnya. dan pagi itu juga, Ve akan menyerahkan surat itu.
dengan yakin, Ve membuka surat itu. tapi Ve pun ragu. dia lalu menyimpan surat itu kembali.
sepulang sekolah…………..
saat Ve sedang berada di rumah Jasya, Ve terus melirik ke arah jalan. berharap Alfi melewati rumah Jasya.
tiba-tiba Alfi pun muncul.
“Ve, itu kan cowok yang kamu taksir”. ucap Fitri spontan.
“eh, iya Ve bang Alfi. kupanggil ya”. ujar Linda sambil tertawa.
“eh, jangan Lin. biar aja abang itu lewat”. sahut Ve sambil mencubit Linda.
“Jasya, nama abang itu siapa?”. tanya Fitri penasaran.
“Alfi..”. ucap Jasya santai.
“Ve… suratnya kamu bawa gak?. ujar Fitri semangat.
“ada tuh Fit di tasku”.
“mana…mana,,,,”. ujar Fitri sambil merogoh tas Ve.
“ih…. buat apa loh Fit?”. ujar Ve kesal.
“kamu kasih aja. mumpung dia lewat”.
“gak mau”. ujar Ve sambil merebut surat itu dari tangan Fitri.
“Jasya, cepat panggil abang itu. nanti abang itu keburu sampai dirumahnya”.
“panggil gak Ve?”. tanya Jasya ragu.
“jangan”. teriak Ve.
“panggil”. seru Fitri dan Linda.
“Alfi!!”. teriak Jasya.
spontan Alfi pun menoleh, Jasya bergegas lari sambil menyerahkan surat cinta Ve.
“surat apa ini dek?”.
“baca aja dirumah”.
Alfi pun terus berjalan sambil memandangi surat itu.
“tuh kan Ve, untung kita kemari. kalau gak mau sampai kapan kamu simpan surat itu?”. sahut Fitri senang.
“Fit kira-kira dibacanya gak ya?”.
“kalau diambil dia udah jelas dibacanya lah Ve”.
“gimana ya respon abang itu?”.
“lihat aja besok di sekolah”.
keesokan harinya, Ve terus menanti Alfi melewati rumahnya. tapi Alfi tak kunjung lewat. seminggu pun berlalu. tapi Alfi tak pernah melewati rumah Ve lagi.
“Jasya abang itu ada nanya gak tentang surat itu?”.
“gak ada tuh”.
“kog abang itu gak pernah lewat rumah ku lagi ya”.
“Ve mereka kan sekarang sibuk les. bisa aja abang itu pulang nya sore atau diantar kawan nya”.
perpisahan pun digelar. Ve semakin sedih karena tidak bisa melihat Alfi lagi disekolahnya. dan hingga saat ini Alfi tidak pernah tahu nama penulis surat itu. karena Ve tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. bahkan yang lebih aneh lagi, Ve masih tetap saja berdebar saat melihat Alfi.